Selasa, 11 April 2017

Motivation Skill (kemampuan motivasi)

Pengertian Motivasi

Sumber daya manusia dapat digerakkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi, maka perlu dipahami motivasi mereka dalam bekerja terutama untuk para karyawan adalah penekanan pada motivasi kerja mereka. Pemberian motivasi pimpinan kepada karyawan maupun motivasi yang timbul dari diri karyawan itu sendiri untuk bekerja sambil berprestasi akan mampu mencapai kinerja yang maksimal, tercapainya kinerja organisasi yang maksimal dan tercapainya tujuan organisasi.


Menurut Arep dan Tanjung (2004, hal. 12) menyatakan bahwa “motivasi ialah sesuatu yang pokok, yang menjadi dorongan seseorang untuk bekerja”. Sedangkan menurut Kreitner dan Kinicki (2003, hal. 248) menyatakan pendapatnya tentang pengertian motivasi adalah “proses psikolofis yang meningkatkan dan mengarahkan perilaku untuk mencapai tujuan”. Mathis dan Jackson (2001, hal. 89), menyatakan “motivasi merupakan hasrat di dalam seseorang yang menyebabkan orang tersebut melakukan tindakan”. Robbins (2003, hal. 208) memberkan definisi motivasi sebagai sebagai “kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi beberapa kebutuhan individual”


Dengan demikian, motivasi seseorang dipengaruhi oleh stimuli kekuatan intrinsik yang ada pada diri seseorang/individu yang bersangkutan, stimuli eksternal mungkin juga dapat mempengaruhi motivasi, tetapi motivasi itu sendiri mencerminkan reaksi individu terhadap stimuli tersebut. Individu termotivasi berdasarkan berbagai motif/keinginan untuk tujuan tertentu. Dengan adanya berbagai motif/keinginan seperti motif untuk kerja, prestasi, kekuasaan, keadilan, kebutuhan dan lain sebagainya sehingga membentuk sebuah motivasi atau disebut juga bentuk-bentuk motivasi.
Ada yang termotivasi untuk pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan pada dasarnya meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan dihargai, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang paling dasar seperti rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian dan perumahan), seks dan kebutuhan dasar lainnya. Kebutuhan keamanan seperti keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik. Kebutuhan sosial atau berafiliasi (bermasyarakat) mencakup kasih sayang, rasa dimiliki, dan diterima oleh lingkungan sekitarnya. Kebutuhan akan dihargai seperti harga diri, prestasi, status, perhatian. Sedangkan kebutuhan aktualisasi diri dapat berupa keinginan mengembangkan diri, mencapai hasil yang potensial, dan pemenuhan diri.


Menurut Arep dan Tanjung (2004, hal. 12) ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk memotivasi seseorang, yaitu: peran, perlakuan dan penghargaan dan yang paling penting dalam memotivasi, sasaran yang paling tepat adalah memotivasi rohani/kalbunya. Motivasi juga dapat terbentuk dari harapan, yang mengaitkan motivasi dengan harapan yang diterima individu. Seorang individu dimotivasi untuk menjalankan tingkat upaya yang lebih tinggi bila menyakini upaya akan menghantar ke suatu penilaian kinerja yang baik; suatu penilaian yang baik akan mendorong ganjaran seperti bonus, kenaikan gaji, atau pun promosi, dan ganjaran-ganjaran tersebut akan memuaskan tujuan-tujuan pribadi. Dengan demikian dalam teori harapan, motivasi dirumuskan dalam bentuk: 1) motivasi kinerja: yang dihubungkan dengan upaya dan hasil/kinerja yang diharapkan; 2) motivasi ganjaran: yang dihubungkan dengan kinerja yang baik akan memberikan ganjaran yang setimpal; 3) motivasi tujuan pribadi: merupakan ganjaran akan memenuhi tujuan pribadi yang akan memenuhi kebutuhan pribadi.


Berdasarkan beberapa teori tentang motivasi yang dikemukakan para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bentuk-bentuk motivasi antara lain: motivasi berprestasi/kinerja, motivasi kekuasaan, motivasi berafiliasi/sosial, motivasi ganjaran/umpan balik, dan motivasi pribadi.
5. Teori-teori Motivasi
a. Teori Kebutuhan Maslow
Kebutuhan seorang individu dimulai dari kebutuhan yang paling dasar, seperti rasa lapar, haus, perlindungan (pakaian dan perumahan), dan kebutuhan dasar lainnya. Setelah kebutuhan dasar terpenuhi kemudian individu akan meningkatkan kebutuhannya, seperti berjenjang mulai dari yang terpenting sampai yang bersifat lux (mewah). Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, individu akan memenuhi kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan dihargai, dan kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan keamanan seperti keselamatan dan perlindungan terhadap kerugian fisik. Kebutuhan sosial atau berafiliasi (bermasyarakat) mencakup kasih sayang, rasa dimiliki, dan diterima oleh lingkungan sekitarnya. Kebutuhan akan dihargai seperti harga diri, prestasi, status, perhatian. Sedangkan kebutuhan aktualisasi diri dapat berupa keinginan mengembangkan diri, mencapai hasil yang potensial, dan pemenuhan diri.


Teori kebutuhan Maslow ini dikenal dengan Hierarki Maslow yang terdiri atas (Mathis dan Jackson, 2001, hal. 90) yaitu: “1) Kebutuhan fisiologis, 2) Kebutuhan rasa aman, 3) Kebutuhan untuk merasa memiliki, 4) Kebutuhan akan harga diri, dan 5) Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri”.

Sumber : http://irsansuhaefri.blogspot.co.id/2011/05/pengaruh-kemampuan-dan-motivasi.html